
Traveling selalu punya cerita, baik menyenangkan, serunya, bahkan sampai repotnya. Tapi cara kita bepergian bisa mengubah rasa dan maknanya. Apalagi kalau solo traveling dibandingkan dengan family trip.
Akan ada masanya di mana kita bisa bepergian sendirian atau solo traveling. Tanpa suara anak memanggil, tanpa diskusi mau pergi dan makan ke mana. Tanpa ada kompromi tentang jadwal perjalanan.
Tapi liburan bersama keluarga itu akan selalu seru dan menjadi cerita untuk dikenang si kecil. Akan ada masa di mana biasa bawa koper dengan ukuran kecil atau medium kalau solo traveling tapi begitu bersama keluarga akan menjadi dua kali lipat.
Solo traveling vs family trip bukan soal mana yang lebih baik. Tapi tentang fase hidup, kebutuhan jiwa dan cara kita menikmati dari semua perjalanan yang kita pilih. Bukan begitu buibu?…
Solo Traveling

Kita mulai dulu dari solo traveling ya. Solo traveling adalah perjalanan yang dilakukan sendiri, tanpa teman atau keluarga. Semua keputusan saat bepergia ada di tangan kita. Mulai dari memilih destinasi wisata, menentukan jadwal, sampai menghadapi resiko di perjalanan.
Ada yang sudah pernah solo travelingkah? Kalau saya baru satu kali dan itu pun masih destinasi dalam kota, Bali. Ternyata bagi sebagian orang, solo traveling adalah bentuk kebebsan. Tapi kalau bagi saya sendiri ini adalah ujian keberanian.
Jujur sih kareng belum pernah solo traveling ke luar negeri jadi penasaran deh. Di usia yang sekarang ini untuk solo traveling bukanlah hambatan menurutku.
Kenapa Memilih Solo Traveling
Ada beberapa alasan kenapa sesorang akan memilih solo traveling:
- Butuh waktu untuk diri sendiri (me time) dulu alasannya ini sih dan karena mau menikah jadi pengin solo traveling.
- Ingin lebih mengenal diri, kira-kira seberani apa sih kita? Ternyata baru sampai Bali doang beraninya kalau saya.
- Fleksibilitas tanpa kompromi, ini benar sih karena waktu dulu solo traveling semua serba santai dan tidak terikat.
- Tantangan keluar dari zona nyaman, betul banget ini karena jadi kayak ada tantangan baru. Kalau kata anak sekarang “dikasih tantangan kita tantangin”.
Sebagai seorang ibu, solo traveling sering terasa seperti kemewahan kecil. Tapi jurstri di situlah saya dapat belajar, istirahat bukan berarti lari dari tanggung jawab.
Realita Solo Traveling: Tidak Selalu Instagramable

Kata siapa solo traveling itu selalu seindah di instagram, banyak juga yang suka membagikan pengalaman solo travelingnya tidak selalu instagramable. Padahal kenyataannya kalau solo traveling itu:
- Kadang kesepian saat makan karena harus sendirian atau ke mana-mana sendiri.
- Harus lebih waspada soal keamanan, ini setuju banget sih.
- Semua masalah harus diselesaikan sendiri
- Tidak ada yang bantu angkat koper, ini kejadian sih pas ke Korea geret dan angkat sendiri koper size besar.
Tapi ternyata di sisi lain ada yang lebih seru sih:
- Lebih mindful karena dapat menikmati tempat-tempat liburan yang dituju.
- Lebih mudah berinteraksi dengan penduduk lokal sekitar.
- Lebih percaya diri dalam menghadapi situasi tak terduga.
- Lebih peka terhadap diri sendiri.
Solo traveling mengajarkan kemandirian dan self-trust, rasanya seperti berbicara dengan diri sendiri dalam versi lebih jujur. Benar gak sih? Tapi kalau lihat pengalaman teman-teman yang solo traveling sih memang gitu ya.
Family Trip

Beda banget sih kalau family trip, semua harus terencana dan kenyamanan anak itu nomer satu bagi saya. Family trip adalah perjalanan bersama keluarga, pasangan, anak atau bahkan keluarga besar.
Kalau solo traveling tentang kebebasan, maka traveling bersama keluarga adalah tantangan kebersamaan. Memang jadi challenging sendiri sih kalau liburan bersama keluarga.
Kalau buatku pribagi family traveling tuh jauh lebih kompleks ya. Karena banyak banget persiapannya loh, tapi kalau saya tetap happy. Karena akan jadi cerita yang bisa selalu dikenang.
Perbedaan Solo Traveling dan Family Trip
Dari itinerary sudah pasti akan terlihat jelas, kalau solo traveling lebih bebas dan fleksibel. Sementara family trip ini itenerary harus jelas dan menyesuaikan kenyamanan anak dan keluarga.
Budget sudah pasti beda ya, kalau solo traveling akan lebih murah. Sementara kalau dari segi energi, sudah pasti family trip akan mengeluarkan energi lebih banyak. Terutama ibu yang masih punya anak balita hingga anak usia SD ya.
Emosi lebih reflektif dan personal kalau pergi sendiri ketimbang sama keluarga ya. Karena kalau sama keluarga kadang ada saja kejutan yang bikin emosi suka naik.
Kalau menurutku tidak ada yang lebih unggul karena masing-masing punya pengalaman yang berbeda ya.
Realita Traveling Bersama Keluarga

Traveling bersama keluarga itu memang seru karena akan membuat pengalaman lebih seru bersama si kecil. Tapi realitanya:
- Anak bisa tiba-tiba lelah.
- Jadwal yang sering kali molor dari yang sudah dibuatkan, betul gak? Kalau saya sering banget sih.
- Harus cari makanan yang kids friendly agar anak juga merasakan kalau liburannya penuh dengan makna.
- Sudah pasti packing akan jadi dua kali lipat lebih banyak.
- Drama-drama kecil yang tidak bisa dihindari.
Tapi buat saya sendiri traveling bersama keluarga itu menyenangkan, karena dapat membangun kemandirian untuk si kecil juga. Akan selalu ada tawa dan canda di tengah kemacetan. Obrolan random di perjalanan, tempat wisata atau kamar hotel. Foto-foto yang nanti akan jadi kenangan bertahun-tehun kemudian.
Manfaat Solo Traveling untuk Ibu dan Perempuan

Ternyata banyak juga yang merasa bersalah saat melakukan solo traveling. Padahal manfaat solo traveling cukup besar loh bagi kita para ibu dan perempuan.
- Recharge mental dan emotional
- Meningkatkan rasa percaya diri
- Melatih pengambilan keputusan
- Memberi ruang bagi diri untuk refleksi
- Membuat kita lebih menghargai keluarga saat kembali
Kadang kita juga perlu jeda loh bun…
Manfaat Traveling Bersama Keluarga

Tapi buat saya juga traveling bersama keluarga itu punya nilai tersendiri yang tak tergantikan.
- Quality time tanpa ditraksi gadget, setuju gak nih?
- Anak belajar budaya baru dan kemandirian
- Membangun memori jangkan panjang
- Menguatkan bonding antara keluarga
- Mengajarkan fleksibilitas dan kompromi
Anak mungkin tidak akan ingat nama hotel atau tempatnya tapi mereka akan merasakan kebahagiaan saat bersama orang tuanya.
Solo Traveling vs Family Trip, Mana Lebih Baik
Sebenarnya itu semua tergantung dari diri kita sendiri dan kebutuhannya. Karena memang semuanya itu punya plus minus yang bisa jadi pelajaran. Ada masa di mana kita ingin menyendiri, tapi ada masa di mana kita juga ingin bersama keluarga.
Ada perjalanan yang membuat kita mengenal diri sendiri tapi juga ada perjalanan yang membuat kita mengenal keluarga lebih dalam. Solo traveling memberi ruang untuk bertumbuh, family trip memberi ruanga untuk selalu terhubung.
Kalau sekarang dikasih pilihan, solo traveling atau family trip mana yang teman-teman akan pilih? Kalau saya akan pilih keduanya karena itu adalah dua hal yang berbeda.
Pada akhirnya traveling bukan tentang pergi jauh, tapi tentang pulang dengan hati yang lebih penuh dan gembira.