
Traveling itu memang healingnya setiap orang ya, apalagi untuk ibu. Karena seorang ibu juga butuh liburan loh, tapi apakah travelingnya sesuai dengan realita. Ini yang selalu jadi perdebatan ya, setuju gak sih?
Kalau dilihat-lihat media sosial kita tuh kalau lagi traveling pasti bikin orang pengin juga, karena terlihat gembira dan menyenangkan. Padahal kalau boleh jujur, traveling tuh suka ada ribetnya dan lelah loh.
Apalagi kalau bikin list itenerarynya panjang, inginnya semua itu bisa digapai. Sudah pasti kaki pegal, badan lelah, dan isi kepala jadi penus dengan list destinasi liburan.
Tapi buatku itu menjadi keseruan tersendiri, makanya selalu punya perioritas kalau sedang liburan bersama keluarga dan teman. Biasanya destinasi juga mengikuti pergi dengan siapakah kita.
Traveling Versi Feed Media Sosial dan Kenyataan

Bagi sebagian orang feed istagram harus terlihat effortless. Padahal versi nyatanya suka suka dar der dor gitu lah bahasa anak sekarang ya. Kalau destinasinya jauh, harus bangun lebih awal biar dapat moment yang pas.
Padahal dalam kenyataannya juga saya kalau traveling bersama teman atau keluarga suka melenceng schedulenya. Tapikan orang gak perlu tau ini ya, kerempongan itu akan tambil di instagram story saja.
Untuk mendapatkan momen yang pas, kadang gak selalu mulus. Ada kalanya suka salah naik transportasi, belum lagi kalau turun hujan dan ini juga pernah kejadian sama saya waktu di Singapore dan Korea Selatan.
Cerita-cerita keseruan yang gini kadang gak tampil di feed media sosial tapi saya tuangkan diblog. Pokoknya buat saya tuh yang penting kalau urgent bisa fleksibel liburannya.
Hal-hal yang gini tuh membuat traveling jadi banyak ceritanya. Karena cerita yang begini sudah pasti jadi kenangankan?
Capek Itu Nyata dan Wajar

Capek saat traveling itu biasa buatku, makanya balik lagi dengan tujuan awal saat memutuskan liburan sih. Pastikan juga dengan siapa kita perginya, teman atau keluarga karena perioritasnya akan berbeda.
Walau kata orang capek itu bagian dari proses traveling, hahahaaa… Biasanya saya selalu mengakali tempat yang jauh atau sekiranya bakal lama itu disesuaikan dulu dengan destinasi lain.
Bisa bikin destinasi yang jauh ini di pagi hari, jadi habis sarapan langsung jalan. Apalagi kalau bawa anak ya, pastikan juga transportasinya nyaman. Sejauh ini saya selalu mengutamakan kenyamanan anak kalau liburan bersama keluarga.
Sambil mengajarkan anak juga life skill juga, lumayan selama traveling anakku juga jadi belajar banyak banget. Karena kalau family trip ini energi kita sudah pasti lebih extra ya bun.
Ribet Sejak Sebelum Berangkat

Percaya gak sih kadang tuh ribetnya traveling sering dimulai jauh sebelum berangkat. Atau pas kita lagi packing, benar gak? Berasa banget pengin bawa saja semuanya.
Mulai dari menyusun itinerary, mengurus visa kalau pergi ke negara yang membutuhkan visa, menghitung budget, hingga memutuskan apa yang perlu dibawa dan apa yang harus ditinggal.
Kadang suka kejadian juga tanpa sadar kita terlalu banyak mengambil keputusan kecil dan semuanya mempengaruhi perjalanan. Ini yang pada akhirnya membuat adanya mental mental load yang sering tak terlihat.
Tapi kalau saya ya kadang di tengah keribetan itu ada rasa puas. Karena akhirnya semua berjalan sesuai rencana walau selalu ada aja gebrakan-gebrakan di setiap momennya.
Momen yang Tidak Bisa Dibeli

Pada dasarnya traveling itu bukan tentang checklist tempat kalau menurutku. Karena ada momen-momen kecil yang tidak bisa diulang atau dibeli. Ibaratnya tuh “kapan lagi bisa ke sini, belum tentu bulan depan” ya gak sih?


Sama halnya waktu saya ke Korea Selatan, salah satu momen yang saya ingin bisa duduk di pinggiran Sungai Han sambil melihat matahari terbenam.
Layaknya drama Korea, gelaran tiker yang dibeli oleh teman saya. Terus beli mie ramen yang diseduh langsung dan beberapa keripik. Ini menjadi momen yang sangat hangat dan memang tak bisa dibeli.
Beda lagi kalau perginya sama keluarga, menciptakan momen untuk keluarga adalah wajib bagi saya. Karena ini akan menjadi kenangan untuk si kecil.
Karena apa yang dilihat anak dengan rasa kagumnya, tanpa ekspektasi berlebihan menjadi momen yang tak bisa dibeli bagi saya dan pak suami.
Momen-momen seperti ini jarang muncul bukan saat kita membuat itinereray, tapi justru itulah yang paling melekat saat traveling.
Traveling Mengajarkan Hal yang Tidak Ada di Buku

Di perjalanan, kita belajar beradaptasi dan mengenal lingkungan baru. Belajar untuk menerima bahwa rencana bisa berubah. Belajar bersabar, fleksibel dan lebih peka terhadap sekitar.
Dengan traveling juga mengajarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus, tapi bisa selalu indah. Tidak semua harus sesuai dengan rencana untuk menjadi bermakna.
Apalagi Kalau travelingnya bersama teman, pengalaman yang seru sudah pasti dikenang. Kita juga akan mengenal seseorang aslinya pada saat traveling. Alhamdulillah selama ini traveling selalu sama teman-teman yang baik dan sefrekuensi.
Traveling Setelah Punya Anak

Kalau sebelum punya anak rasanya mau traveling tuh bisa bebas saja menentukan destinasi. Tapi setelah punya anak, tantangannya juga lumayan sih.
Traveling bersama anak memang akan mengubah segalanya. Kita yang tadinya bisa satset tentu akan tidak secepat itu ya, tujuan juga disesuaikan dengan kemampuan si anak tapi sudah pasti setiap perjalanan akan bermakna.
Kita belajar melihat dunia dari sudut pandang yang lebih sederhana. Tidak lagi soal seberapa banyak tempat yang ingin dikunjungi, tapi seberapa dalam pengalaman yang akan dirasakan si kecil.
Ternyata traveling bersama anak ini bisa berubah dari mengejar tempat menjadi mengumpulkan cerita seru. Ini juga menjadi fase belajar bersama si kecil.
Traveling memang capek dan ribet. Tapi justru di tengah lelah itu, kita merasa hidup. Kalau kamu pulang dengan badan pegal tapi hati penuh, berarti perjalananmu berhasil.
Karena pada akhirnya, traveling selalu worth it bukan karena sempurna, tapi karena nyata. Coba dong sharing pengalaman teman-teman saat traveling.